RSS

nasionalisasi aset migas

17 May

Nasionalisasi Aset Migas

Menurut data, diperkirakan 10 tahun mendatang banyak kontrak kerja sama asing yang telah habis masa kontraknya. Dan hingga saat ini masih diperdebatkan bagaimana keberlanjutan dari pengelolaan blok-blok migas tersebut. Apakah akan diambil alih untuk dikelola NOC (Nasional Oil Company) kita yaitu Pertamina atau tetap dikelola oleh pihak asing tersebut. Alasan klasiknya yaitu karena masih banyak yang skeptis terhadap cara kerja Pertamina (Technology, Finance, dan Managementnya) namun adapula yang menganggap Pertamina sudah berbenah diri dan sanggup mengelola blok-blok migas milik Indonesia. Kabar terbaru yang saya dengar Pertamina sudah mulai menerjunkan diri dalam industri migas offshore salah satu contohnya adalah lapangan Pertamina di North West Java.

Dari saya sendiri nasionalisasi migas sebenarnya sangat penting untuk kemandirian energi dalam negeri. Karena jika suatu blok dikelola oleh asing maka mereka punya hak sebagian dari hasil produksi mereka untuk diekspor ke negara asalnya, hal inilah yang menyebabkan suply BBM ke Indonesia menjadi lebih sedikit sehingga Indonesia perlu mengimpor BBM dengan jumlah yang cukup banyak yaitu sekitar 600 juta bbl per day.

Namun adanya kontraktor asing dalam industri migas dalam negeri juga masih dapat diterima. Biar bagaimanapun kita masih sangat membutuhkan kehadiran mereka untuk membantu kita melaksanakan eksplorasi yang sangat susah dilakukan oleh NOC karena keterbatasan dana dan mungkin teknologi. Apalagi dengan status migas Indonesia yang masuk daftar High Risk. Dengan status ini maka tidak banyak perusahaan yang mampu melakukan eksplorasi di Indonesia khususnya daerah laut dalam. Perlu diketahui juga pengeboran sumur laut dalam memiliki biaya yang lebih besar kira-kira 5 kali lipat biaya sumur onshore (darat). Bisa dibayangkan jika biaya satu sumur onshore saja 5 juta dolar maka biaya pengeboran sumur dalam tinggal dikali 5 saja dan itupun belum diperhitungkan biaya lain-lainnya. Jadi untuk menjalin kerjasama yang baik ini nasionalisasi migas tidak bisa dilakukan sekaligus dengan pengambil-alihan total aset-aset migas, lalu mengusir semua kontraktor asing dari Indonesia.

Nasionalisasi hendaknya dilakukan secara perlahan dengan pengambil-alihan aset-aset migas yang habis masa kontraknya terlebih dahulu. Dengan adanya Cost Recovery pada awal produksi maka pengambil-alihan seharusnya menjadi lebih mudah karena semua support tools sudah ada dan tinggal digunakan saja, bisa juga dengan mempekerjakan pekerja Indonesia pada perusahaan asing yang telah mengelola blok tersebut untuk mengisi kekosongan tenaga kerja.

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2012 in kenergian

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: